Belajar dari Bawang Merah

sebuah kritik esai

Belajar dari Bawang Merah

Siapa yang tidak pernah mendengar cerita bawang merah dan bawang putih?.Walau memiliki beragam versi,tapi inti dan amanat dari cerita ini tetaplah sama. Cerita ini bercerita tentang kepedihan seorang bawang putih yang “Mau” di tindas oleh sang ibu tiri dan kakak tiri, yang akhirnya sang ibu tiri dan bawang merah mendapat balasan yang setimpal. Dari cerita rakyat yang sederhana ini , banyak hikmah dan pelajaran yang dapat petik. Pelajaran-pelajaran tersebut bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai pelajar. Hikmah-hikmah apakah yang dapat kita ambil? Bagaimana cara mengaplikasikannya?Kedua pertanyaan diatas akan penulis bahas dalam kritik essay ini.

Keberanian Sang Bawang Merah

Layaknya cerita rakyat biasa, pastilah ada tokoh yang berperan sebagai protagonis dan antagonis, dan kebanyakan tokoh yang berperan protaginis selalu  bersifat baik hati,ramah dan jujur, dan untuk antogonis  adalah kebalikan dari sifat-sifat diatas. Di dalam cerita Bawang merah dan Bawang Putih, yang berperan protagonis adalah bawang putih,sedangkan yang berperan sebagai tokoh antagonis adalah Sang Ibu Tiri dan Bawang Merah. Tapi pelajaran dan hikmah tidak hanya kita dapat dari tokoh protagonis, setumpuk hikmah dan pelajaran dapat kita petik dari tokoh yang berperan antagonis. Seperti kali ini,kita akan mendapat banyak hikmah dari seorang Bawang Merah. Bawang Merah dikisahkan sebagai seorang anak yang berperilaku tidak baik, tidak sopan,dan jahat. Belajar dari bawang merah,bukan berarti kita harus meniru sifat-sifat jeleknya tapi belajar dari Bawang Merah,kita belajar untuk menjadi seseorang yang berani. Ia telah berani berbuat jahat walaupun akhirnya ia mendapatkan balasan, tapi setidaknya ia mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu kepada bawang Putih. Hanya sangat disayangkan,sifat keberanian Bawang Merah itu diaplikasikannya di jalan yang salah, seperti hal nya kita para pelajar, kita mempunyai rasa berani tapi kita aplikasikan untuk berani membohongi petugas penjaga ujian. Jujur saja dewasa ini, kejujuran dikalangan para pelajar sangat lah mahal, hampir setiap pelajar pernah berani untuk berbuat curang, lebih tepatnya berani untuk menyontek. Api-api kreativitas pun muncul di jalan yang salah, sehingga bermunculan buih-buih tips dan trik yang diwariskan oleh tetua nya untuk menyotek,padahal sudah jelas di agama terutama dalam agama Islam hal itu di larang. “Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami”(HR. Muslim).Dalam hadist ini tergambar jelas,betapa rendahnya kedudukan golongan yang berbuat curang.

Jangan mau menjadi Bawang Putih

Jujur, penulis tidak menyukai sifat-sifat Bawang Putih. Bawang Putih dikisahkan bersifat baik hati, dan lemah lembut.Tapi Bawang Putih bagi penulis adalah sosok yang penakut, ia tidak berani mengutarakan opininya. Padahal kita semua tahu bahwa Bawang Putih adalah benar jika ia mau menentang kekejaman ibu dan sudara tirinya. Bawang Putih terlalu takut untuk sekedar berkata jujur,bahwa dirinya lah yang bernar. Ia terkesan menunggu keajaiban datang, ia, mungkin keajaban itu akan datang dalam cerita, tapi tidak untuk dunia nyata. Di dalam kehidupan nyata terutama kehidupan pelajar,keajaiban mustahil datang jika kita tak membuka lebar jalan untuk keajaiban itu. Nah,disinilah masalahnya, banyak pelajar tahu bahwa perbuatan pelajar lain ialah salah,tapi kebanyakan mereka hanya dapat berdiam diri sambil bergumam didalam hati  menunggu hidayah datang untuk teman-temanya. Apakah mereka bodoh? tentu tidak,mereka hanya butuh keberanian layaknya Bawang Merah, yang kita butuhkan adalah berani “Berani Jika Benar” “Berani untuk Kebaikan”. Mereka adalah orang yang pintar,karena sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk untuk kehidupannya -kelak, mereka ialah orang-orang yang dapat memaknai menyontek untuk menyontek keteladanan. Tapi, semua hal itu percuma, karena hanya diamalkan untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, bukankah kita semua saudara?bukankah sesama saudara harus saling mengingatkan?. Ilmu kita tak akan bermanfaat jika kita amalkan sendiri, belajar lah membagi ilmu itu untuk orang lain,untuk orang disekitar mu,karena kau peduli terhadap mereka.

Jujur Untuk Esok Yang Lebih Baik

Sifat jujur wajib di miliki penerus-penerus bangsa,tapi sifat jujur bukan sifat yang mudah begitu saja untuk ditanamkan,butuh proses panjang bak pohon yang harus ditanam dari bibitnya tak henti-henti disirami,diberikan pupuk,hingga pada akhirnya ia menjulang menjadi pohon yang besar. Begitupula dengan sifat jujur, memang butuh proses yang panjang, tapi Mengapa tidak kita mulai dari sekarang?. Kembali belajar dari Bawang Merah dan ibu Tirinya yang berbohong dengan Bapak Bawang Putih yang akhirnya mereka mendapat imbalan yang setimpal, tapi itu hanya sebuah cerita. Coba kita bandingkan dengan dunia nyata, banyak koruptor-koruptor yang dengan mudah berkeliaran walaupun sudah terbukti bersalah,dalam dunia nyata tidak akan semudah di dunia cerita, yang salah tidak mesti mendapat hukuman. Lalu bagaimana nasib bangsa ini?. Nasib bangsa ini ada di tangan kita semua,terutama kalangan pelajar. Mau dibawa kemana bangsa ini? Mungkin pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Sebagai penerus bangsa,sudah semestinya kita berbakti, dan ingat “Sesuatu hal yang kecil akan menjadi sesuatu yang besar kelak”,”Dan apa yang kita lakukan hari ini, akan mengubah masa depan”. Seperti hal nya yang dilakukan Bawang Merah dan Ibunya yang berbuah pada hukuman. Hal kecil yang kita lakukan sekarang akan sangat berparuh untuk kita nantinya, jika sejak kecil kita sudah terbiasa untuk korupsi nilai atau berbuat curang,bisa jadi saat dewasa nanti kita akan jadi pohon yang terlihat kuat  tapi didalamnya hati kita rapuh karena memikul dosa yang berat. Tidak kecil kemungkinan kita menjadi penerus Gayus Tambunan.Wallahu a`lam.

Sugesti Ibu Tiri Jahat

Hal terakhir yang ingin dikritisi oleh penulis adalah mengenai sosok sang Ibu Tiri Bawang Putih. Ia dikisahkan sebagai ibu yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Padahal di dalam dunia nyata, tidak semua Ibu Tiri itu jahat, itu kembali lagi kepada sifat manusia itu  masing-masing.Cerita-cerita mengenai Ibu Tiri Jahat sedikit banyak dapat mensugesti anak-anak bahwa ibu tiri itu bersifat jahat,padahal tidak selalu ia. Jadi sebaiknya saat anak-anak membaca cerita ini mendapat bimbingan dari kedua orang tuanya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari kisah Bawang Merah dan Bawang Putih adalah banyak hikmah/sifat/pelajaran yang dapat kita ambil bukan hanya dari sang tokoh protagonist tapi dari tokoh antagonis, dan tak ada artinya jika hikmah itu tidak kita amalkan dalam kehidupan kita sebagai pelajar. Dan semoga kita bisa menjadi penerus bangsa yang bersifat Jujur dan Berani di jalan yang benar. Amin.

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. oshiku says:

    keren.. melihat bawang merah dgn cr pandang sprti itu… i like it!

    1. Arigatou si…makasih juga udah jadi orang yang ngoment pertama kali di blog ku.. ^^

  2. ini essay asli pemikiranmu wid?? bagus lhoo!

  3. asli donk nis…he he…thx comment mu bikin aku semangat buat nge-blog lgi…:)

    1. samasama . kunjungi blog aku juga yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s