Sumpit bukan sembarang sumpit…

Sulit, Pembuatan Sumpit Tradisional

 

GUNAWAN
Peta Kalimantan

SUMPIT sebagai senjata khas masyarakat Dayak di Kalimantan dikenal dari bentuknya berupa sebilah kayu panjang dengan lubang di tengahnya. Meski hanya sepotong silinder kayu kecil yang sudah digunakan sejak zaman dulu, jangan dikira nenek moyang masyarakat Dayak mudah membuat sumpit.

Proses pembuatan sumpit dengan peralatan tradisional sulit bukan main, serta memakan waktu lama. Pembuatan sumpit pada masa lampau hanya dikerjakan para ahli. Mereka biasa membuat sumpit dengan bor buatan sendiri dari batu gunung. Bor digerakkan  secara manual.

Proses menghaluskan bagian luar sumpit pun bukan dengan amplas, melainkan dengan kulit  bagian belakang ikan pari atau buntal yang dikeringkan. Bagian dalam dihaluskan dengan cara memasukkan sebilah bambu panjang yang ujungnya dibalut ikan pari dan digerakkan maju-mundur berulang kali.

“Karena itu, tak heran jika sumpit bisa dibuat dalam kurun waktu tahunan,” kata Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chendana Putra, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (2/6/2011).

Pekerjaan menghaluskan lubang itu memang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan. Pasalnya, jika lubang tersebut tak lurus dan licin, anak sumpit yang keluar bisa melenceng. Selain itu, ada cara pembuatan sumpit yang tak kalah rumit.

Lubang sumpit dibuat dengan menggunakan kekuatan arus air di riam-riam yang menggerakkan mata bor. Arus membuat mata bor bergerak seperti baling-baling atau kincir. Kini, cara pembuatan sumpit sudah bergeser seiring perkembangan zaman. Sumpit dibuat dengan peralatan modern agar proses pengerjaannya lebih praktis.

Saat ini, tutur Chendana, perajin sumpit sudah menggunakan peralatan seperti bor listrik, amplas, dan gergaji. Sumpit pun bisa dibuat dalam waktu hanya dua minggu.

Akan tetapi, bukan berarti seluruh proses sudah bisa dilakukan dengan mudah. Ada pula tahap yang masih sulit dilakukan.

“Proses mengikat mata tombak pada ujung sumpit dengan kuat dan rapi susah sekali. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya,” kata Chendana.

Besi runcing diikat dengan potongan rotan tipis memanjang pada ujung sumpit agar bilah kayu itu juga dapat berfungsi sebagai tombak untuk menghabisi hewan atau musuh yang belum bisa dilumpuhkan. Proses mengikat mata tombak dengan baik benar-benar membutuhkan kesabaran tinggi.

“Saya pernah tiga bulan belajar mengikat mata tombak, tetap tidak bisa. Saya sampai dimarahi karena tak bisa melakukannya,” ujar Chendana seraya tertawa.

sumber : kompas.com
Dwi Bayu Radius | Agus Mulyadi | Kamis, 2 Juni 2011 | 18:40 WIB

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s