Hari Ibu Untuk Anisa

Hari Ibu untuk Anisa
Karya Widyastuti Lintang Sari
Suasana di kantin Sekolah Teladan tampak ramai seperti hari-hari biasanya. Sebagian besar siswa berbaju putih biru menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan siang bersama. Termasuk Anisa, remaja putri berumur dua belas tahun itu sedang asyik melahap mie bakso dihadapannya. Hari itu ia sedikit beruntung karena mendapat traktiran dari sahabatnya.
“ Nisa, gimana bakso nya enak gak?”
“Hah, enak-enak, makasih ya dah mau neraktir aku.”
“Iya sama-sama deh Nis.”
“Tapi, ada apaan sih Nit, kok tiba-tiba pakek neraktir aku segala?” tanya Anisa penasaran.
“Gue lagi seneng banget Nis, kan seminggu lagi nyokap bakal pulang dari Australi jadi rencana gue sama bokap untuk ngerayain Hari Ibu di Indonesia bakalan kejadian.” jawab Nita panjang lebar.
“Oh, selamat deh kalau gitu.” Anisa tersenyum lebar.
“Kalau lo gimana Nis, ngerayain Hari Ibu juga gak?” tanya Nita penasaran.
“Emm…aku gak pernah ngerayain Hari Ibu Nit, sejak umur enam tahun kan ibuku udah pergi jadi TKW di Malaysia.”
“Oh, padahal gue setiap tahunnya pasti ngerayain Hari Ibu lho, udah jadi tradisi di keluarga gue”
“Jadi tradisi? Kamu gak bosen tuh ngerayainnya setiap tahun.”
“Enggak.” Nita menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gak mungkin bosen Nis, ibukan udah ngasih banyak banget kasih sayang ke kita sejak lahir, masak untuk ngerayain setahun sekali aja bisa bosen sih.”
“Wah kamu bener juga Nit!”
Pikiran Anisa melayang jauh keluar dari area kantin. Ia mulai teringat saat-saat bersama ibunya. Walau hanya bisa mengingat sedikit, rasa rindu Anisa mencuat. Ia rindu kepada ibunya.Perasaan sedih seorang anak akibat hilangnya kasih sayang. Seperti itulah yang Anisa rasakan. Ia teringat kembali akan sosok ibunya.
Bel sekolah berbunyi nyaring seperti menghipnotis Anisa untuk bergegas pulang. Kali ini langkahnya lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya. Ia ingin cepat sampai ke rumah. Ada hal penting yang ia ingin sampaikan kepada ayahnya. Di siang bolong itu, Anisa mulai berlari-lari kecil setelah mendapati gang rumahnya yang menganga. Gang itu walau di siang hari tetap tampak gelap dan lembab. Tapi, lebar gang itu cukup untuk tubuh kecil Anisa yang senang berlari.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumussalam”
Seorang pria berkumis tipis, berumur 45 an keluar dari sebuah rumah kecil yang beratapkan seng dan berdinding tripleks, sama seperti rumah-rumah disekelilingnya. Ia tersenyum melihat anak tunggalnya sudah pulang sekolah.
“Nis, kenapa kamu keringatan gitu?” tanya Pria itu heran.
“Oh, tadi Nisa lari, supaya pas sampai kerumah Ayah belum pergi kerja lagi” Anisa berkata dengan bangga.
“Oh, nanti kan bisa tetap ketemu kalau malam hari” pria berkumis itu tersenyum kearah Anisa.
Ada yang ingin aku katakan ayah!
Suasana di gang itu tidak seramai saat malam hari karena sebagian besar orang tua sudah berangkat kembali untuk bekerja. Yang tersisa hanya anak-anak mereka yang mulai berpulangan dari sekolah. Suara musik dangdut dari radio yang belum sempat dimatikan menyemarakan gang yang tercemar bau busuk dari tempat pembuangan sampah kota.
“ Tapi Nisa mau ketemunya sekarang yah, ada yang penting” Ucap Nisa sedikit manja.
“ Bukannya uang sekolah sudah ayah bayar?”
“Bukan tentang sekolah , tapi tentang…”
“Tentang apa?”
Pria itu tidak punya waktu lagi untuk tebak-tebakkan dengan satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki di Indonesia. Ia harus segera berangkat kerja. Waktu makan siangnya sudah hampir selesai. Ia harus segera kembali ke pabrik tempat ia bekerja. Walau pabrik itu tidak terlalu jauh dengan rumahnya, pria itu tetap harus bergegas karena bisa jadi ia akan dipecat oleh bosnya jika sedikit saja terlambat.
“Tentang Hari Ibu Yah, Nisa mau ngerayain Hari Ibu.” jawab Anisa lantang dengan senyum yang lebar.
“Hah, Hari Ibu?” raut pria tua itu berubah dengan cepat.
“Kenapa mendadak mau ngerayain Nis?” tanya pria itu penasaran.
“Emm, Nisa kangen ibu yah, kayaknya ibu akan bahagia kalau kita bisa ngerayain Hari Ibu bareng-bareng.”
“Ah, ada-ada aja kamu Nis, ibumu kan masih di Malaysia, gimana mau ngerayainnya?”
“Ya, makanya itu Nisa tanya ma Ayah.”
“Sudah, nanti malam aja ya bicaranya, ayah mau berangkat kerja dulu.” ucap ayah sekenanya. Sebuah ciuman mendarat tepat di kening Anisa.
Langkah kaki pria itu terasa berat. Ia masih memikirkan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut anak satu-satunya itu. Hari Ibu? Bagaimana bisa Anisa merayakan Hari Ibu tanpa kehadiran sang ibu disisnya.
Anisa masih kesal dengan perilaku ayahnya yang pergi begitu saja. Ia kesal. Tapi di tengah kekesalan itu dia terus bersabar menunggu ayahnya pulang. Lampu yang satu-satunya dialiri listrik di rumah itu ia hidupkan. Sedangkan, Anisa belajar dengan lampu teplok yang setia menemaninya setiap malam. Ia mulai membuka buku catatannya, membaca tulisannya dengan seksama. Sesekali tangannya menutupi mulutnya yang menguap.
Mata bulat Anisa melirik jam dinding yang tepat berada didepan nya. Ia menghentak-hentakkan kakinya. Ia gelisah. Anisa mulai kehilangan kesabarannya. Pukul Sembilan malam, pria berumur 45-an itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Desir angin masuk dan keluar dengan bebasnya ke jendela yang tak bisa ditutup sempurna itu. Sesekali angin mengibaskan rambut Anisa yang hitam kelam. Dan sesekali juga ia mengembalikan posisi rambutnya.
Anisa gelisah. Diambilnya segera jilbab praktis yang sejak pulang sekolah ia gantung di belakang pintu kamarnya. Anisa keluar dari rumah tripleknya. Ia memutuskan untuk menunggu di luar rumah. Bapak-bapak teman sekerja ayahnya sudah mulai berpulangan. Satu persatu menyapa Anisa. Harapan Anisa untuk berbicara kepada ayahnya malam ini semakin mengembang, sebentar lagi ayah pasti pulang pikir Anisa. Kembali Anisa menguap.
“Nisa!!”
Terdengar suara sayup-sayup membangungkannya.
Perlahan mata Anisa mulai terbuka, samar-samar mulai tampak wajah ayahnya.
“Ayah” panggil Nisa kaget melihat sosok ayah berada dihadapannya.
“Kenapa tidur di luar Nisa?” kata ayah dengan wajah yang diselimuti keringat.
“Kan, Nisa udah niat mau ngomongin soal tadi siang..”
“Ngomongin tentang Hari Ibu Yah, Nisa kan pingin ngerayain Hari Ibu.” sambung Anisa masih setengah sadar walau wajah ayahnya semakin jelas dipelupuk mata.
“Kamu serius pingin ngerayain?” tanya ayah.
Anisa hanya mengangguk-ngangguk mengiakan, kantuknya masih menjadi hambatan baginya.
“Iya, Nisa pingin banget ngerayainnya Yah, kita kan gak pernah ngerayain Hari Ibu sebelumnya.”
“Iya ayah paham, tapi kalau mau ngerayain kan mesti ada ibu Nis, gimana kalau Nisa ngerayain nya waktu ibu sudah pulang ke Indonesia” jawab Ayah berusaha menenangkan Anisa.
“ Ibu kan pulangnya dua tahun lagi yah.” Anisa tampak sedih.
“Ya, kamu sabar aja ya, ngerayain Hari Ibunya di tunda aja sampai ibu pulang!”
“Nisa gak mau nunggu selama itu Yah, kalau kita yang ke Malaysia aja gimana?” tanya Anisa sekenanya.
“Ke Malaysia itu gak gampang, kita harus punya uang yang banyak dulu baru bisa kesana, sedangkan kamu tahu kan Nis, uang ayah gak banyak.”
“Hemm..jadi yang dibutuhkan sekarang uang ya?” pikir Anisa dalam hati.
“Ayo, tidur aja sekarang, besok kamu kan mesti masuk sekolah”
Pria itu memasuki rumah untuk bersegera tidur. Ia berharap keinginan anaknya akan pudar seiring berjalannya waktu. Tidak ada kabar pasti tentang keberadaan Ibu Anisa. Bahkan semenjak kepergiannya ke Malaysia, ayah terpaksa untuk selalu berbohong kepada Anisa tentang keadaan baik ibunya di Malaysia. Semenjak enam tahun kepergiannya menjadi TKW di Malaysia, tak pernah ada satupun kabar yang datang baik melalui surat maupun telepon.
Anisa terlanjur tak bisa tidur. Ia terus memikirkan kata-kata ayahnya. Dia tidak mungkin menunggu dan hanya berdiam diri saja sampai ibunya kembali pulang. Kertas dihadapannya mulai ia coret-coret, tangannya dengan lincah mulai membuat daftar tentang hal-hal apa saja yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan banyak uang. Ia berharap bisa pergi ke Malaysia, tapi kalaupun tidak bisa pergi ke Malaysia setidaknya saat ibunya pulang nanti ia bisa merayakan hari ibu dengan lebih meriah.

1. Uang jajan dipotong setengah
2. Membantu ibu kantin
3. Menjual Koran sebelum sekolah
4. Menyemir sepatu di stasiun dekat sekolah
Anisa semakin bersemangat untuk mengisi kertas dihadapannya. Ternyata banyak yang bisa ia lakukan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Keesokan harinya ia memulai melaksanakan satu-persatu yang terdapat didaftar yang ia buat. Awalnya sulit untuk Anisa, namun ia gadis yang keras kepala. Ia kokoh pada keinginannya.
Sudah dua tahu berlalu, kini tingginya sudah hampir setara dengan ayahnya. Ia menjadi anak yang semakin rajin, nilainya selalu baik sehingga mendapatkan beasiswa. Sungguh kabar gembira yang diterima ayahnya saat keadaan ekonomi yang semakin melilit.
Anisa membuka satu persatu halaman kalender di kelasnya, ia terpaku pada satu titik. Dua puluh dua desember! Hari yang sudah ia tunda selama dua tahun. Hari yang ia tunggu-tunggu. Akan datang sebentar lagi, tinggal seminggu lagi! Anisa sudah tak sabar.
Wajah Anisa berseri, ia yakin bahwa sebentar lagi ibu kandungnya akan segera pulang. Ia tahu bahwa kontrak ibunya akan habis dalam delapan tahun, tepatnya tanggal delapan belas September, itu yang pernah disampaikan ayah padanya. Segera Anisa memecahkan celengan miliknya. Setelah ia hitung, terkumpul sekitar tiga juta rupiah. Ia yakin, ibunya akan bangga dan senang melihat kejutan darinya.
“Ayah” Anisa memanggil dengan lembut
Pria berkumis itu menengok kearah anaknya yang sudah semakin besar.
“Ada apa Nis?”
“Yah, tahun ini kontrak Ibu selesai kan? Ibu akan segera pulangkan?” Anisa berharap banyak.
“Maaf Nisa, ayah lupa memberitahukanmu bahwa kontark ibu akan diperpanjang dua tahun.” jawab ayah.
“Diperpanjang Yah? Nisa gak mau menunda lagi .” wajahnya menunjukkan kekesalan.
“Tunggu sebentar Yah” Anisa berlari menuju kamarnya, ia masih memiliki harapan.
Ayah hanya berdiam.Tentu saja ia benar-benar kaget mendengar ucapan dari Anisa. Mengapa ia masih ingat akan merayakan Hari Ibu? Ayah berharap, kebohongannya tadi dapat menghapuskan keinginan Anisa. Ayah tak ingin Anisa membahas hal itu lagi, bahkan untuk selamanya.
Anisa keluar dari kamar, sambil membawa uang tabungannya yang telah ia masukkan kedalam kresek hitam.
“ Yah, ingat kan Nisa pernah bilang gimana kalau kita aja yang pergi ke Malaysia untuk nemuin ibu, terus kita ngerayain Hari Ibu disana bareng-bareng.” Anisa tersenyum.
Anisa memberikan uangnya ke tangan sang ayah. Ia tersenyum berharap ayah setuju dengan keinginannya. Keinginannya yang sudah tertunda selama dua tahun. Keinginannya merayakan Hari Ibu bersama ibu dan ayahnya. Kerinduannya kepada sang ibu tak tertahan lagi.
“Nisa…” pria itu menarik napas dalam-dalam.
Ayah hanya terdiam tak ada satupun kata yang terucap. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Ia tidak mungkin berbohong lagi. Tapi ia tak sanggup mengakatakan yang sesungguhnya kepada Anisa.
Teringat sore itu, seperti sore-sore pada hari biasanya. Pria berkepala empat yang masih setia mengayuh sepeda tuanya. Pergi ke kantor pos kecil di kota itu. Sepucuk surat ia bawa untuk mengabarkan keadaan diri dan anakanya, Anisa. Matahari memang sudah condong ke arah barat, tapi harapannya selalu tumbuh seperti setiap paginya matahari terbangun dari arah timur. Setiap hari pria itu setia menunggu surat jawaban dari istrinya di negeri jiran.
“Kirim surat lagi pak?” Tanya perempuan di balik kaca lobi kantor pos
“Ia mba, saya gak akan berhenti kirim surat sampai surat saya dibalas.”
“Kalau gitu, sabar ya pak, InsyaAllah bapakkan akan dapat surat balasannya.”
Pria itu tetap sabar menunggu balasan istrinya. Walau dia tak pernah tahu keadaan istrinya. Walau ia tidak tahu dimana istrinya tinggal di Malaysia. Ia hanya bisa berharap istrinya baik-baik saja. Ia hanya bisa berdoa.
“Yah,gimana setuju enggak?” Anisa berharap banyak.
Anisa masih menunggu jawaban dari pria yang mematung di hadapannya. Ia sangat yakin pasti keinginannya akan disetujui. Uang yang ia berikan juga cukup untuk pergi ke Malaysia bersama ayahnya.
Mata pria itu melirik ke arah kresek hitam yang dipenuh tumpukkan uang lima ribuan, sepuluh ribuan dan receh yang diberikan Anisa. Pria itu tak tahu harus berbuat apa.
Ia menangis, sedikit demi sedikit air mata mengalir di pipinya. Ia memeluk Anisa dengan erat.
“Maafkan ayah, Anisa”

nb : pernah diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja 2011
mohon kritik dan sarannya 🙂

Advertisements

One Comment Add yours

  1. terimakasih yg sudah nge-like..mohon kritiknya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s