Pulang!

Suasana pengap di dalam bus kota ini membuatku ingin buru-buru keluar. Sayang, rumahku masih jauh, masih tersisa lima lampu lalu lintas lagi yang harus dilalui oleh bus tua ini. Sesekali aku melemparkan pandangan kearah jalanan lewat jendela yang berada tepat disampingku. Musik masih mengalir indah dari headphone yang sedari tadi sudah terpasang ditelingaku, aku tampak lebih kecil dengan headphone ini kata temanku dikelas , saat kupamerkan headphone merah, hadiah dari ibuku. Sesekali mataku menutup, dan aku menguap setelahnya. Suasana di bus ini sangat mendukung ku untuk hijrah kealam mimpi, hanya ada aku, kondektur dan supir bus serta ibu berumur setengah baya yang duduk di belakang kursi supir bus. Mataku yang sejak tadi sudah tak tahan tiba-tiba menjadi siaga saat bus melaju dengan kencang, tubuhku bak dibawa lari oleh angin. Aku tersentak dan kaget, ibu setengah baya itu lantas mengomeli supir dihadapannya. “Agar cepat sampai”, Hanya itu kata yang dikeluarkan sang supir untuk menjawab omelan panjang ibu setengah baya itu. Aku hanya menggelengkan kepala tanda kekesalanku. Lalu aku bersikap seperti semula.

Tiga lampu lalu lintas telah dilalui, artinya tinggal dua lampu lalu lintas lagi. Ku tengok jam tanganku sudah hampir pukul enam sore, tandanya sebentar lagi akan terdengar adzan maghrib. Rasanya aku ingin cepat sampai. Aku tak mau rindu saat-saat itu. Hari ini, ayahku akan pulang kerumah. Sudah dua tahun lamanya aku tak berjumpa dengan ayah. Rindu ku tak tertahankan. Maghrib ini ayah akan sampai dirumah kata ibu saat menelponku tadi di sekolah. Sekali lagi aku tak akan melewatkan saat-saatku dengan ayah, aku rindu mendengar suara ayah mengucapkan takbir dan menjadi imam sholat untuk aku, ibu dan kedua adikku. Selama dua tahun ayah bekerja di atas kapal. Ia, orang yang hebat bagiku. Aku tahu perjuangannya tak mudah, tapi ia tak pernah lupa mencurahkan kasih sayangnya kepada ku walau dalam hitungan dua bulan. Selama dua tahun sekali, ayah akan pulang kerumah selama dua bulan. Dua bulan kami habiskan bersama-sama. Ayah adalah imam yang baik bagi keluarga, walau intensitas pertemuan kami sangat singkat tapi ayah dengan pintar memanfaatkannya untuk mengajari kami segala hal. Teringat beberapa kenangan manis bersama ayah, teringat saat pertama kali aku diajari cara sholat maghrib yang benar oleh ayah, walau aku tahu betapa lelahnya ayah pulang dari kerja diatas kapal. Inilah yang membuatku tak ingin melewatkan sholat maghrib bersamanya. Tinggal satu lampu lalu lintas lagi, aku akan sampai didepan gang rumahku. Aku sudah tak sabar bertemu ayah. Aku rindu! Kepenatan dan rasa kantuk seakan hilang sejalan dengan semakin dekat bus ini kearah tujuanku. Aku ingin pulang! Kulihat ibu setengah baya itu mendekati pintu bus, ia mengetok kaca sambil berkata kanan, kondektur bus mengangguk dan menjadi pelanlah bus yang kutumpangi ini. Lalu bus ini mulai berjalan kembali walau dengan tempo lambat. Gang rumahku semakin terlihat jelas. Sebentar lagi aku sampai. Namun,kulihat ada yang berbeda disekitar gang itu, kulihat orang-orang berkerumun. Aku lekas meminta turun kepada kondektur sebelum sampai tepat di depan gang. Ku langkahkan kaki kananku dan sedikit berlari kearah kerumunan. “Ada apa?” Tanyaku kebingungan “Ada rumah yang kebakaran, rumah…nya Bu Anis” Kudapati diriku dihadapan kobaran api yang menyala-nyala. Rumah yang sedang dilalap api itu adalah rumah ku. Rumah penuh kenangan bagi ku. Ruang tamu tempat pertama kali aku sholat maghrib bersama ayah saat berumur enam tahun sudah ludes dilahap si jago merah. Aku pasrah melihat kenangan-kenanganku ikut terbakar. “Dimana Ibu, kedua adikku ?” “Apa yang harus kukatakan dengan ayah jika pulang nanti? Pertanyaan itu berkeliaran bebas dipikiranku. Dan aku ingin pulang! Pulang kerumah penuh kenangan itu untuk menyambut kepulangan ayah. Namun, kini harapanku tak berbekas terbakar api.

nb : Dimuat di Kedaulatan Rakyat Rubrik Kaca 9/12/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s