Tentang Aku dan Teladan

Assalamualaikum 🙂

IMG_6159

Secara tidak sengaja, pagi ini saya membuka-buka folder berisi surat-surat penting termasuk ijazah. Melihat ijazah SD dan SMP, ternyata ada perubahan yang cukup drastis dari nilai-nilaiku. Ijazah SMPku di warnai dengan nilai delapan dan sembilan, berbeda dengan SD yang masih dihantui dengan nilai enam dan tujuh. Berusaha memaklumi diri sendiri, mungkin, karena saat SD, aku masih beradaptasi dengan gaya pendidikan di Jogja yakni cara belajarnya. Nilai yang tercantum di ijazah SMP yakni 36,55 sebenarnya tidak akan mungkin or absolutely impossible membawaku ke SMA N 1 Yogyakarta atau TELADAN. Namun, takdir Allah, aku mendapatkan nilai tambah sebesar 0,8 dari Juara Umum Travelling dalam Jumpa Bakti Daerah (PMR) DIY. Sebuah perlombaan yang dulu niatnya hanya ikut-ikutan, khususnya ngikutin @Alna lisna, makasih ya na..huhuhu. Tapi, saat mengikuti seleksi perlombaan itu, aku berusaha merubah niatku, mengingat masa lalu, mungkin aku hadir disini untuk belajar perdamaian, tahu kan kalau PMI itu awalnya dibentuk karena bapak PMI melihat kekejaman perang, haha malah meleber kemana-mana. Ya, intinya aku merasa sangat beruntung ketika dapat nilai tambah 0,8 itu, sehingga nilai akhirku adalah 37,3..dengan was-was aku mendaftar SMA N 1 YK.

Alhamdulilah, meskipun posisiku terus turun, tapi di hari terakhir aku berhasil. Datanglah aku ke sekolah yang bersejarah itu. Sebenarnya, aku lupa tepatnya, sebelum atau sesudah jadi pasti menjadi murid SMA 1 YK, ada sesi wawancara singkat, dan aku ingat saat itu pewawancara bilang, “oh jadi dapat nilai tambah”. Saat mendengar pernyataan itu, entah saya terlalu sensitif atau gimana, di dalam hati aku bilang emang kenapa kalau dapat nilai tambah, itukan perjuangan juga bisa dapat nilai tambah dan seterusnya. Tapi setelah itu, pewawancara menanyakan kegiatan JUMDA, dan dengan bersemangat aku menjawab walau akhirnya dicukupkan oleh pewawancara, padahal masih banyak yang ingin aku ungkapkan lagi. Tapi, sebenarnya saya bersyukur mendengar pernyataan seperti itu. Itu menjadi motivasi eksternal untuk bisa berubah menjadi lebih baik, menjadi siswa Teladan.

Dengan motivasi itu juga, saya ikut beragam kegiatan yang katanya SMA “Teladan”[1], agar suatu saat nanti kalau kata teman saya jika anak dan cucu kita berkumpul, kita akan bercerita tentang kegiatan yang kita lakukan bersama untuk Teladan. Diakhir-akhir menjadi siswa Teladan yakni saat duduk di kelas tiga, aku menuliskan target yang besar mungkin bisa jadi bahan tertawaan orang lain. Target itu aku tulis besar-besar dan aku tempelkan di kamar, agar bisa aku baca setiap hari. Target itu adalah mendapat nilau Ujian Akhir Nasional terbaik se-Indonesia. Target itu sebenarnya terinspirasi dari target temanku yang lain, dia bilang dia ingin memberikan nilai UAN terbaik untuk Teladan, karena selama ini belum ada yang berhasil memberikannya. Perkataanya menjadi motivasi tambahanku.

 

Diakhir diriku menjadi siswa Teladan, target itu alhamdulilah tidak tercapai. Mungkin belum saatnya, mungkin ada siswa yang lebih pantas memberikannya untuk Teladan. Diakhir menjadi siswa, alhamdulilah aku masuk tiga besar nilai UAN murni terbaik di SMA, selain itu kelasku IPS (Ikatan Pelajar Sholeh/ Ikatan Pelajar SubhanaAllah/ Ikatan Pelajar Sukses) berhasil menjadi kelas terbaik. Kita berhasil membuktikan bahwa kelas sosial bisa sejajar dengan IPA dan bahkan menyainginya. Hemm..mungkin ini fragmen kisah ku dengan Teladan, masih banyak fragmen-fragmen lain yang belum tersusun dengan rapi untuk dikisahkan. Tapi, pada akhirnya aku belajar, bahwa berada di Teladan adalah kesalahan besar bagi orang yang tidak mau berubah, sebuah kerugian bagi orang yang tidak inginmove on. Berada di Teladan haruslah menjadi kepompong, dimana saat kita lulus nanti kita sudah siap setidaknya berbakti untuk masyarakat lewat bidang-bidang yang kita tekuni. Menjadi Teladan adalah pekerjaan besar yang tak akan selesai hingga akhir hayat. Terakhir, selamat datang adik-adik Teladan 2017, perubahan besar menanti kalian, merasa salah masuk? Jadi teringat perkataan ust. Salim A. Fillah ketika menyambut siswa baru Teladan, selamat kalian tersesat di jalan yang benar. Jadi, tetap semangat untuk adik-adik Teladan 2017, kakak-kakaknya 2015 dan 2016 yang siap menyambut dengan GVT hehe,by the way GVT itu sangat terasa manfaatnya saat kuliah lho, jadi beruntunglah yang merasakannya. Ok, cukup sekian, jika ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf. Wassalamualaikum 🙂

 

 

[1] Mengapa saya bilang katanya, karena menurut saya, saat saya jadi murid disana, suasana memang sangat mendukung untuk jadi telada, tapi maafkan saya karena teladan itu juga berarti murid yang teladan, sedangkan diri ini masih sering telat, begitujuga dengan teman-teman lain yang masih mencontek dll. Sedih hati menjadi bagian yang justru tidak menjadi teladan di Teladan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s